Wednesday, July 15, 2009

Aku Lupa Aku Ada Dia

Saat langkah ku berderap,
Tangan menggenggam kitab,
Terus layar-layar bisu bermain di minda,
Aduh! Peritnya bila mengenangkan.

Rasa ingin kuteriak satu dunia,
Bahwa aku cuma manusia,
Aku tiada kuasa untuk memuaskan hati mereka--yang selalu betul,
biar mereka bukan dari kalangan mereka yang mengenaliku,
perlu memperlekehkankah? perlu menyisihkankah? Ego?

Di dunia,
ya..aku cuma seorang rabiatul adawiyah,
yang manusia selainnya menilai dari kejelekan nilai manusia itu sendiri,
Aku tidak terlawan dengan pandangan mereka,
Terkadang aku rasa aku bukan milik di sini,
Aku tidak serupa dengan mereka,
Aku ingin segera pulang,
pulang kepada-Mu.
biar aku sering rindukan pertemuan; pertemuan yang baik-baik,
dengan-Mu.
namun bekalan masih belum cukup.

Bila bait-bait itu menerjah lagi telinga ini,
Memaksa mindaku mentafsir sebaris demi sebaris ayat,
Aku tiba-tiba rasa lemah,
Tiba-tiba rasa gundah.
Walhal seharusnya aku membuka lebih banyak ruang di hati ini,
Menerima seadanya kerna dia juga manusia.

Semakin hari, semakin jauh rasanya hari itu,
yang telingaku desing dek kata-kata,
jiwaku lemah dek pandangan sinis,
langkahku lesu dek tunjalan arahan-arahan yang tak kabur egoisnya,
lalu bila satu garisan kucapai,
aku merasakan,
rupanya aku yang terlalu naif!
Aku lupa aku ada Dia,
ya..Dia yang seharusnya menjadi segala-galanya bagiku.
Bukankah Dia yang akan menentu segala-galanya?
Bukankah Dia yang akan menguatkan?

Lalu, dari saat itu,
aku tegakan niat dalam diri,
untuk apapun yang aku lakukan,
untuk Dia.
biar susah.
biar payah.
biar aku sahaja yang tahu.

Dan langkah pantas ku teruskan,
kubuang jauh-jauh layar lara bisu dari minda,
kutinggal jauh luka-luka semalam.


Aku tahu dan pasti,
hati ini sudah lama menjadi milikNya.
cuma bila aku seorang manusia,
terkadang,
aku lupa aku ada Dia.


Rabiatul Adawiyah Rayah
5: 27 am
Villa Indah Permai,
Shah Alam,
Selangor.



p/s-Puisi ini mengandungi maksud yang cukup tersirat. Selamat membaca dan mengkritik! ^o^

2 comments:

  1. Alunan puisi terbit dari jiwa pengaturnya..
    Hati yg suci telus, terukir dengan puisi yg diungkapkan,
    Teruskan memberi & berkongsi..

    ReplyDelete
  2. Syukran TG...

    insyaAllah selagi diizinkan Allah,
    selagi idea ni masih belum kering...
    (x dapat lah buat cerita macam TG, sgt smooth bila dibaca)

    ReplyDelete